Budaya Keselamatan Pasien di UPT. RSUD Malingping

Budaya Keselamatan Pasien di UPT. RSUD Malingping

 

PENTINGNYA BUDAYA KESELAMATAN PASIEN

DI UPT.  RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING

PROVINSI BANTEN

 

 

 

 

LATAR BELAKANG

 

 

Dewasa ini keselamatan pasien menjadi isu penting yang diperbincangkan secara global. Keselamatan pasien menjadi komposisi penting dalam terciptanya pusat layanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas. Keselamatan pasien perlu dijadikan sebagai suatu budaya di dalam pusat layanan kesehatan seperti Rumah Sakit sehingga penerapannya dapat terjadi secara spontan tanpa paksaan.  Menurut  Permenkes Nomor 11 Tahun 2017 Keselamatan pasien (patient  safety)  rumah sakit adalah suatu sistem  yang membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi:

 

  1. Assessmen risiko
  2. Identifikasi dan pengelolaan  risiko pasien
  3. Pelaporan dan analisis insiden
  4. Kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko.

 

Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.Standar pelayanan rumah sakit, telah diterapkan pada sistem manajemen mutu iso, dan lain-lainnya, yang mana dapat meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit dilihat dari aspek struktur, pada prosesnya dan juga pada hasilnya. kenyataanya masih terdapat kejadian yang tidak diharapkan (ktd) sehingga masyarakat merasa tidak puas dan terjadi tuntutan hukum. oleh karena itu diperlukan penerapan budaya keselamatan pasien di setiap pusat layanan kesehatan seperti rumah sakit untuk mencegah terjadiya hal yang tidak diinginkan.

 

Menurut fleming (2006) dalam hamdani (2007), budaya keselamatan pasien yaitu suatu jalan untuk menciptakan program keselamatan dengan cara fokus pada pelaksanaan programnya sehingga dapat menghasilkan keselamatan pasien.

 

METODE

 

Metode yang digunakan adalah metode pengkajian, dimana penulis mengkaji beberapa literature yang bersumber dari beberapa jurnal dan juga artikel terpercaya. Setelah penulis mengkaji maka selanjutnya penulis akan memaparkan hasil pengkajiannya dalam tulisan ini.

 

TUJUAN

 

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan budaya keselamatan pasien sehingga dapat mengurangi angka kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi kepada pasien. Selain untuk mengurangi kejadian yang idak diinginkan, penulisan ini juga bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan bagi setiap orang.

 

HASIL

 

 

Dari  pengkajian   ini  diperoleh  hasil  bahwasanya   penerapan  budaya   keselamatan  pasien merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan pada setiap intansi pusat layanan kesehatan seperti salah satunya rumah sakit, hal ini disebabkan karena budaya keselamatan pasien yaitu suatu jalan untuk menciptakan program keselamatan dengan cara fokus pada pelaksanaan programnya  sehingga  dapat  menghasilkan  keselamatan  pasien.     Salasattujuan  dari keselamatan pasien yaitu menurunnya KTD yang merupakan bagian dari insiden keselamatan pasien. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dicipakanlah Budaya Keselamatan Pasien yang bertujuan mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Selain itu, Budaya Keselamatan Pasien merupakan faktor yang paling penting dalam upaya untuk mengurangi resiko yanmerugikan di rumah sakit  dan meningkatkan keselamatan pasien. Budaya keselamatan pasien merupakan komposisi  penting dalam pelayanan kesehatan dan telah dikaitkan dengan hasil pasien yang diperoleh pasien di rumah sakit. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa keberhasilan pelaksanaan program keselamatan pasien oleh petugas rumah sakidipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu nya adalah budaya keselamatan pasien. Saat ini sudah banyak peneliti mengenai  Budaya Keselamatan Pasien  dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan program keselamatan pasien.

 

 

PEMBAHASAN

 

 

Budaya Keselamatan Pasien

 

 

Sasaran  keselamatan  pasien   menyoroti  bagian-bagian   yang   bermasalah  dalam  pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan  yang  ada.  Penyusunasasaran  ini  mengacu  kepada  Nine  Life-Saving  Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRS PERSI), dan dari Joint Commission International (JCI). Jika rumah sakit ingin menurunkan kejadian insiden keselamatan pasien maka rumah sakit harus menerapkan  budaya  keselamatan  pasien.  Sampasaat  ini,  banyak  negara  telah  memulai penelitian budaya keselamatan pasien, baik Negara maju maupun Negara berkembang seperti Indonesia.  Penelitiatentang  budaya  keselamatan  pasietelah  berkembang  dalam  beberapa

 

tahun terakhir. Namun, masih kurang evaluasi objektif dan kuantitatif dari kualitas penelitian- penelitian tersebut.

 

Keselamatan pasien ini dapat diraih dengan menciptakan budaya keselamatan pasien di suatu rumah sakit sebagai pusat layanan kesehatan.

 

Menurut fleming (2006) dalam hamdani (2007), budaya keselamatan pasien yaitu suatu jalan untuk menciptakan program keselamatan dengan cara focus pada pelaksanaan programnya sehingga dapat menghasilkan keselamatan pasien.   Salah satu tujuan dari keselamatan pasien yaitu  menurunnya  KTD  yang merupakan  bagian  dari  insiden  keselamatan  pasien.  Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dicipakanlah budaya Keselamatan pasien yang bertujuan mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. permintaan masyarakat untuk perawatan yang lebih aman telah memberikan dampak terhadap   industri kesehatan untuk memahami hubungan antara keselamatan pasien dan kinerja rumah sakit. penelitian brown & wolosin (2013) mencoba memaparkan   hubungan antara persepsi staf terhadap budaya keselamatan dan langkah-langkah yang sedang berlangsung di rumah sakit berdasarkan struktur unit  keperawatan,  proses perawatan,  daresiko  yang  merugikan  pasien.  hubungaantara tindakan keperawatan, kinerja rumah sakit dan budaya keselamatan dieksplorasi di 9 rumah sakit california dan 37  unit  keperawatan.  persepsi  budaya keselamatan diukur  6  bulan sebelum pengumpulan metrik keperawatan dan hubungan antara kedua data yang dieksplorasi menggunakan hubungan korelasional dan analisis regresi. hubungan signifikan yang ditemukan adalalangkah-langkah proses untuk pencegahajatuh.  beberapa asosiasi diidentifikasi dari budaya   keselamatan  dan  struktur  pemberian  perawatan,   seperti  campuran  keterampilan, pergantiastaf,  dan  intensitas  beban  kerja  menunjukkahubungan  yang  signifikan  dengan budaya keselamatan. budaya keselamatan merupakan faktor penting untuk memahami upaya untuk  memajukan  perawatan  pasien  yang  aman.  hasil  ini  memberikan  implikasi  kualitas pelayanan untuk kepemimpinan rumah sakit. ketika para pemimpin memprioritaskan budaya keselamatan, resiko terhadap pasien mungkin telah diperbaiki dengan pergantian staf dan peningkatan produktivitas. hal ini dapat dijadikan investasi dalam sistem keselamatan pasien untuk memberikan perawatan andal dan aman (brown & wolosin, 2013).

 

Pentingnya Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

 

 

Budaya  keselamatan  pasien  merupakan  faktor  yang  paling  penting  dalam  upaya  untuk mengurangresiko  yang  merugikan  drumah  sakit  dan  meningkatkan  keselamatan  pasien. Budaya keselamatan pasien merupakan komposisi  penting dalam pelayanan kesehatan dan telah dikaitkan dengan hasil pasien yang diperoleh pasien di rumah sakit. Sebuah penelitian mengungkapkan  bahwa  keberhasilan  pelaksanaan  program  keselamatan  pasien  oleh  pet ugas rumah sakit dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu nya adalah budaya keselamatan pasien. Saat  ini  sudah  banyak  penelitian  mengenai  budaya  keselamatan  pasien  dan  pengaruhnya terhadap pelaksaan program keselamatan pasien. Walshe dan Boalden (2006) dalam Hamdani (2007) menyatakan bahwa penyebab utama kesalahan medis karena kesalahan sistem di rumah bukan karena kesalahan individu (NPSA, 2004) Manfaat penting dari budaya keselamatan pasien antara lain:

 

  1. Kesalahan yang telah terjadi lebih dapat diketahui oleh suatu organisasi kesehatan
  2. Meningkatkan pelaporan insiden dan belajar dari insiden yang terjadi untuk mengurangi berulangnya dan kecelakaan yang terjad
  3. Adanya kesadaran terhadap keselamatan pasien dengan cara mengurangi kecelakaan secarfisik dan psikis
  4. Mengurangi biaya pengobatan dan ekstra terapi.
  5. Mengurangi sumber daya untuk manajemen komplain dan klaim.

 

 

Menurut  Reason  (1997)  dalam  Hamdani  (2007)  budaya  keselamatan  terdiri  dari  empat komponen (subculture) yaitu:

  1. Informed culture. Budaya dimana pihak yang mengatur dan mengoperasikan sistem memiliki pengetahuan terkini tentang faktor-faktor yang menjelaskan keselamatan dalam suatu sistem.
  1. Reporting culture. Budaya dimana anggota di dalamnya siap untuk melaporkan kesalahan atau near miss. Pada budaya ini organisasi dapat belajar dari pengalaman sebelumnya. Konsekuensinya makin baik reporting culture maka laporan kejadian akan semakin meningkat Just culture.
  2. Budaya membawa atmofer trust sehingga anggota bersedia dan memiliki motivasi untuk memberikan data dan informasi serta sensitif terhadap perilaku yang ada. Termasuk di dalamnya lingkungan non punitive (no blame culture) bila staf melakukan  kesalahan . Penting bagi setiap level di organisasi untuk bersikap jujur dan terbuka.
  3. Learning culture. Budaya dimana setiap anggota mampu dan bersedia untuk menggali pengetahuan dari pengalaman dan data yang diperoleh serta kesediaan untuk mengimplementasikan perubahan dan perbaikan yang berkesinambungan (continous improvement).

 Learning culture merupakan budaya belajar dari insiden dan near miss. Survei Hospital Survey On PatienSafety Culture mengukur budaya keselamatan pasien dari segi perspektif staf rumah sakit. Survei ini dapat mengukur budaya keselamatan pasien untuk seluruh staf rumah sakit dari housekeeping, bagian keamanan dari dokter sampai perawat.

 

Dari penjelasan di atas terpapar jelas mengenai bagaimana pentingnya penerapan budaya keselamatan pasien di rumah sakit. Penerapan ini tidak hanya berguna untuk meningkatkan mutu dari suatu rumah sakit akan tetapi juga menjadi dasar terjaganya kondisi pasien sehingga mampu meningkatkan derajat keehatan.

 

KESIMPULAN

 

Budaya keselamatan pasien merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan pada setiap instansi pusat layanan kesehatan seperti salah satunya rumah sakit, hal ini disebabkan karena budaya keselamatan pasien yaitu suatu jalan untuk menciptakan program keselamatan dengan cara fokus pada pelaksanaan programnya sehingga dapat menghasilkan keselamatan pasien. Budaya  Keselamatan  Pasien  merupakan  faktor  yang  paling  penting  dalam  upaya  untuk mengurangresiko  yang  merugikan  drumah  sakit  dan  meningkatkan  keselamatan  pasien. Budaya Keselamatan Pasien merupakan komposisi  penting dalam pelayanan kesehatan dan telah dikaitkan dengan hasil pasien yang diperoleh pasien di rumah sakit.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afrisya, I. (2014). Analisis Budaya Organisasi dan Budaya Keselamatan Pasien Sebagai Langkah Pengembangan Keselamatan Pasien di RSIA Budi Kemuliaan Tahun 2014. Jurnal arsi. Vol 1. Hal 19-200

 

Anwar, Z. (2018). Mentoring sebagai suatu inovasi dalam peningkatan kinerja. Jurnal of

Education and Instruction, 1(1), 21–28.

 

Brown, D. S., & Wolosin, R. (2013). SafetyCulture Relationships with HospitalNursing

Sensitive Metrics. Journal for Healthcare Quality, 61-74.

 

Permenkes RI. (2017).  Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien

 

Essy, M, Hardisman, & Husna, Y. (2018).  Analisis Dimensi Budaya Keselamatan Pasien Oleh

Petugas Kesehatan di RSUD dr Rasidin Padang Tahun 2018. Jurnal fk unand.

 

 

 

Najihah.(2018). Budaya keselamatan pasien dan insiden keselamatan pasien di rumah sakit:

literature review. Journal of islamic nursing. Vol 3.

 

Nurmalia, D. (2013). Pengaruh program mentoring terhadap penerapan budaya keselamatan pasien. Jurnal Manajemen Keperawatan, 1(2), 7988.

 

Simamora, R. H., &Fathi, A. (2019). The Influence Of Training Handover Based SBAR Communication For Improving Patients Safety. Indian journal of public health research

& development, 10(9), 1280-1285.

 

Yennike, T.H. (2015). Budaya keselamatan pasien di ruang rawat inap rumah sakit x kabupaten jember Jurnal Ikesma. Vol 11. Hal 53-58.

 

Yeni, Y,& Maswarni. (2019). Budaya keselamatan pasien pada perawat di instalasi perawatan intensive rsud arifin achmad provinsi riau. Jurnal Keperawatan Priority. Vol 2. Hal 113-

117.

 

Yulia, Y., & Hasbullah, T. (2015).  Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi Bogor Tahun 2015. Jurnal Arsi. Vol 4. Hal 98-100